Jumat, September 18

Menyusun Biografi KH. Nasir Zayadi

 Menyusun Biografi KH. Nasir Zayadi

Oleh: Gus Badrul Arifin

Tahun 2011 silam, saya pernah melakukan riset untuk penyusunan biografi KH. Nasir Zayadi, pendiri pondok pesantren Mansyaul Ulum. Di sana tempat saya belajar agama. Sebetulnya, tidak ada mandat dari siapapun untuk melakukannya. Tugas ini murni inisiatif saya pribadi. Semua tahapan riset dan penyusunannya, saya lakukan secara mandiri.

Sebelumnya, saya juga berkonsultasi dengan Gus Muhammad Adib, bagaimana menyusun buku biografi yang baik. Rektor IAI Al-Qolam itu adalah salah satu dewan penguji skripsi saya tahun 2010. Sikap kritisnya sangat dibutuhkan agar penyusunan memoar nanti menjadi baik.

Satu demi satu, sejumlah informan penting saya sowani untuk diwawancarai. Santri-santri KH. Zainal Alim (kakek KH. Nasir Zayadi) serta teman-teman sejawatnya saat nyantri di Lirboyo dan Sarang menjadi sumber utama (primary source) untuk mengetahui kisahnya ketika beliau masih remaja.

Informasi-informasi yang saya dapatkan saat masa mudanya sampai beliau wafat, bisa dikatakan cukup lumayan, tentu ini penilaian subyektif pribadi saya. Pendapat orang lain bisa berbeda.

Sempat terlintas keinginan untuk merilis catatan yang sudah saya susun sebelumnya agar dimuat di salah satu majalah yang cukup mashur di dunia pesantren. Namun dengan berbagai macam pertimbangan, keinginan itu saya urungkan karena catatan sejarah lengkap berbentuk buku akan jauh lebih bermanfaat.

Hingga saat ini -hampir satu dekade- progres penyusunan biografi itu mengalami kevakuman. Bekerja sendiri benar-benar tidak bisa diandalkan. Di satu sisi, sejarah tentang beliau harus segera dibukukan dan tidak boleh hilang ditelan zaman. Bagaimanapun jasa dan suri teladannya dalam dunia pendidikan, agama, dan sosial penting untuk diketahui oleh masyarakat, alumni, simpatisan, terutama para keluarga dan santri-santrinya.

Akhir maret lalu, saya menyampaikan keinginan melanjutkan misi itu serta meminta doa kepada KH. Muhlashon Nasir. Beliau merupakan anak keempat dari tujuh bersaudara yang saat ini menjadi pengasuh pesantren. Saya bersyukur beliau merestui.

Setelah itu, pada forum pertemuan pengurus yayasan, guru dan alumni, saya meminta agar mereka dapat berpartisipasi membantu proses penyempurnaan biografi ini. Dan Alhamdulillah mereka menyambutnya baik.

Kamis 22 Agustus 2020 atau kemarin lusa usai salat asar, saya mengadakan pertemuan dan membentuk tim. Kerja tim ini akan mempermudah penyempurnaan penyusunan biografi daripada merasa angkuh mengerjakannya hanya seorang diri.

Tim ini berjumlah sembilan orang yang terdiri dari keluarga ndalem, alumni, pengurus yayasan, guru, santri dan akademisi. Tugas pokoknya adalah menggali data sebanyak-banyaknya selama kurang lebih tiga bulan. Setiap dua minggu sekali, kami akan melakukan pertemua untuk menyampaikan perkembangan informasi dan temuan-temuan baru.

Usai tim ini terbentuk dan mengahasilkan beberapa kesepakatan, kami pun melakukan zairah ke makam KH. Nasir Zayadi untuk bertawasul dan memanjatkan doa dengan harapan misi mulia ini dapat berjalan dengan lancar.

Sebagai penutup catatan saya kali ini, ada satu insiden yang dapat diambil pelajaran. Buku saya yang khusus berisi catatan hasil wawancara, data informan, dan tanggal pelaksanaan wawancara hilang entah di mana. Maklum saja, dalam waktu sepuluh tahun terakhir, saya berpindah tempat sebanyak tiga kali.

Kepanikan kian memuncak saat mendengar file berisi draf naskah biografi yang sudah saya kumpulkan dulu, rekaman wawancara, foto-foto Kiai, serta dokumen lain yang sebelumnya saya simpan di komputer pondok ikut lenyap karena harddisk-nya mengalami kerusakan. Menurut laporan pengurus, komputer pondok rusak sudah cukup lama, yang ada saat ini adalah baru.

Lenyapnya kedua dokumen penting itu membuat cemas dan pesimis bercampur aduk menjadi satu. Dan Alhamdulillah saya menemukan kopian draf nakah itu di komputer saya yang telah usang lama tak terpakai. Uniknya, saya menemukan file itu sesaat setelah ziarah dan bertawasul bersama tim. Tentu kejadian ini membuat kami takjub.

Karena file itu sangat berharga dan menjadi satu-satunya bahan yang akan menjadi pijakan awal dari kerja tim, maka saya simpan baik-baik dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi saat ini agar tidak terulang kedua kalinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *