Minggu, September 19
Shadow

SELUAS TELAGA

Siang itu mbah yai menghampiri seorang muridnya yang belakangan ini selalu tampak murung, “saya lihat akhir-akhir ini sampean sering murung, gus? Ada apa? Padahal ada banyak hal yang indah di dunia ini? Ke mana perginya wajah bersyukurmu?” tanya mbah yai “ngeten yai, saya rasakan belakangan ini hidup saya penuh masalah. Rasanya sulit bagi saya untuk tersenyum. Ada saja masalah datang seperti tak ada habis-habisnya” jawab sang murid.

mbah yai tersenyum “gus tolong ambilkan segelas air dan dua genggam garam. Bawa kemari biar ku perbaiki suasana hatimu itu”

si murid pun segera beranjak pelan tanpa semangat ia laksanakan permintaan kiyainya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana yang di minta “sekarang coba sampean ambil segeggam garam dan masukkan ke segelas air itu” kata mbah yai. “setelah itu coba samean minum airnya sedikit” si murid pun melakukannya, wajahnya kini meringis karena minum air asin “bagaimana rasanya?” Tanya mbah yai

“asin dan perut saya jadi mual yai” jawab si murid dengan wajah yang masih meringis. Mbah yai tersenyum melihat wajah muridnya yang meringis keasinan ”sekarang sampean ikut saya” mbah yai mengajak muridnya ke sendang di dekat tempat mereka. “ambil garam yang tersisa dan tebarkan ke sendang” si murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke telaga tanpa bicara rasa asin dari mulutnya, tapi tak di lakukannya rasanya tak sopan meludah di hadapan kiyainya, begitu pikirannya.

“sekarang coba sampean minum air telaga itu” kata kiyai sambil mencari batu yang cukup datar untuk di dudukinya, tepat di pinggir telaga si murid menangkupkan kedua tangannya mengambil air telaga yang dingin dan segar mengalir di tenggorokannya, kiyai bertanya kepadanya,

“Bagaimana rasanya?”

“segar, segar sekali kyai” kata si murid sambil mengelap bibirnya dengan punggung tangannya, tentu saja telaga ini berasal dari aliran sumber air dari atas sana, dan airnya mengalir menjadi sungai kecil dibawah. Dan air telaga ini juga menghilangkan rasa asin yang tersisa di mulutnya.

“terasakah rasa garam yang sampean tebarkan tadi?” tanya mbah guru

“tidak sama sekali yai”

“gus” kata mbah guru dengan suara khasnya lembut meskipun sudah agak parau “segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah di kadar oleh allah, sesuai untuk dirimu jumlahnya tetap segitu-gitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun demikian tidak ada satu dari penderitaan dan masalah.

“tapi gus, rasa “asin” dari penderitaan yang di alami itu sangat tergantung dari besarnya kalbu yang menampungnya. Jadi, supaya tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan kalbu dalam dadamu menjadi seluas telaga agar sampean bisa menikmati hidup” (CA)

oleh : Amiruddin, Santri asal Rejoyoso.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *